Ada banyak cara dalam membangun
masyarakat yang baik dan berperadaban, pendidikan juga tidak kalah pentingnya
dalam hal tersebut. Pendidikan merupakan salah cara untuk membangun masayarakat
yang baik maka orientasi pendidikan haruslah jelas mau diarahkan kemana
nantinya orang-orang yang sudah tidak lagi duduk di dunia pendidikan khususnya
pendidikan formal. Dalam sejarah peradaban banyak para ahli yang memfokuskan
konsentrasinya dalam dunia pendidikan misalnya paulo freire, tokoh pendidikan
modern. Paulo freire mencoba memperkenalkan kepada semua elemen masyarakat
bahwa pentingnya pendidikan. Dia memulai mengajar para petani sesuai dengan
tingkat kecerdasan mereka dengan mengajarkan arti penting dari alat-alat yang
mereka gunakan dalam bertani dan mengajarkannya membaca.
Semua masyarakat pasti
menginginkan hidup yang maju dan berkembang. Untuk mencapai cita-cita itu
pendidikanlah salah satu yang dipilih sebagai instrumen.
Pendidikan sabagai salah satu cara
yang efektif dalam membangun masyarakat membutuhkan perhatian yang serius bagi
semua elemen masyarakat. Baik orang tua, lingkungan maupun negara karena ketiga
elemen tersebut harus jalan bergandengan tangan untuk mewujudkan cita-cita
bersama. Dengan memberdayakan anggota anggota masyarakat tersebut lewat
instrumen pendidikan agar mempunyai mutu kapasitas dan kapabilitas diri sesuai
yang diharapkan. Misalnya masyarakat sparta era yunani kuno melalui pendidikan
menginginkan agar warga negaranya memiliki mutu diri berupa’kepribadian
kesatria’; sedangkan masyarakat atena menginginkan warga negaranya memiliki
mutu diri berupa ‘kecerdasan. Mutu kapasitas dan kapabilitas diri diistilahkan
dengan kedewasaan
Dalam menumbuhkembengkan
peradabanya nagara banyak memperhatikan soal pendidikan dalam memberdayakan
masyarakatnya untuk menciptakan tatanan sosial kemasyarakatan yang dicapainya.
Hal tersebut sebagaimana dalam masyarakat Yunani dan Athena seperti contoh diatas. Pendidikan merupakan salah satu sarana yang dipilih dalam membangun
peradaban yang dicita-citakan tentu perlu mendapatkan perhatian yang serius
bagi semua kalangan terlebih lagi negara yang memiliki peranan penting didalamnya. Sebuah negara dalam menjalankan aktifitas politiknya tidak
asal-asalan dan didasarkan pada sebuah ideologi yang yang dianut. Arah
gerakan haruslah jelas karena cita-cita yang ingin dicapai bisa terlaksana
dengan efektif. Dalam pencapaian tujuan yang efektif inilah dituntut ideologi yang jelas khususnya pendidikan.
Dalam dunia pendidikan banyak
pihak yang selalu tarik menarik kepentingan
di dalamnya, para praktisi pendidikan
seperti guru, dosen di lembaga pendidikan formal, para pelatih (training) pada
tempat kursus maupun lokakarya bahkan para pemandu (pemandu) di berbagai arena
pendidikan non formal, ataupun pendidikan rakyat di kalangan buruh tani
maupun rakyat miskin, banyak yang tidak sadar bahwa ia tengah terlibat dalam
suatu pergumulan politik dan ideologi melalui arena pendidikan.
Perlu adanya kehati-hatian pada
arena pendidikan yang harus disadari secara bersama oleh para praktisi
pendidikan itu sendiri agar tidak terjerumus dalam lubang percaturan politik
dan ideologi melalui arena pendidikan.
Kesedaran seperti itu harus di bangun dengan mengenali dulu ideologi-ideologi
maupun politik yang sedang terjadi khususnya di negara sendiri. Saya tidak bermaksud
untuk kita tidak memiliki landasan ideologis dalam melakukan proses educational
sebagai pegangan kuat bagi para praktisi pendidikan tetapi maksud saya adalah
harus dilihat terlebih dahulu terkait mengenai ideologi pendidikan seperti apa yang menjadi
pegangan kita di dalam melakukan proses educational tersebut dan ideologi yang
bagaimana yang bisa mengantarkan kepada cita-cita pendidikan yang susungguhnya.
Dunia pendidikan pada awal-awal
tahun 70-an mendapatkan kritikan yang pedas di lakukan oleh paulo freire. Paulo
freire menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini di anggap
sakral penuh kebijakan ternyata mengandung juga penindasan. Pendidikan sebagai
sarana dalam menciptakan suasana dan tatanan sosial yang humanis justru
terjangkit oleh praktek-praktek yang dehumanisasi. Di samping itu Ivan Illich
berkata yang sama dengan Freire.
Sesungguhnya berbagai kritik
mendasar tersebut justru semakin mendewasakan pendidikan, yaitu memperkaya berbagai
upaya pencarian modal pendidikan
sehingga melahirkan kekayaan pengalaman diberbagai dunia selatan mengenai
praktek pendidikan sebagai bagian dari aksi kultur maupun transformasi sosial.
Pendidikan hadir tentu tidak ingin memproduksi manusia-manusia yang serakah artinya
mencetak manusia-manusia individualistik yang tidak peduli dengan kehidupan
sosialnya tetapi pendidikan justru ingin mengajarkan bagi individu-individu agar tidak
sewenang-wenang mengambil hak orang lain seperti para koruptor-koruptor. Para
koruptor kalau di lihat mereka justru orang-orang yang berpendidikan inilah
perlu di pertanyakanlebih jauh lagi terkait masalah pendidikan khususnya
pendidikan kita hari ini, kenapa orang-orang yang memiliki dan sudah di katakan
orang yang berhasil dalam dunia pendidikan justru melakukan hal-hal yang
demikian, apa yang harus di perbaiki dalam dunia pendidikan kita saat
ini. Menyangkut masalah tersebut ada banyak versi, ada yang mengatakan itu
adalah salahnya individu, ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah sistem yang
salah.
Pendidikan secara filosofis adalah
memanusiakan manusia. Pemaknaan terhadap memanusiakan manusia inilah yang perlu
untuk di maknai kembali agar pendidikan yang kita jalankan hari ini benar-benar
bisa membawa konsep-konsep tentang memanusiakan kembali manusia.
Kata memanusiakan manusia memang
agak menggelitik dan seakan-akan yang hadir dalam benak kita adalah bahwa kita
ini bukan manusia karena perlu di manusiakan kembali tetapi itulah kenyataan
yang kita hadapi saat ini. Pendidikan menurut Jalaludinbimbingan secara sadar dari
pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya munusia
yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal. John dewey mengatakan bahwa
pendidikan adalah sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental
yang menyangkut; daya piki (intelektual) maupun daya rasa (emosi) manusia. Dari
pandangan di atas bahwa pendidikan merupakan proses yang di lakukan oleh
manusia untuk mengembangkan dan meningkatkan daya pikir, daya rasa, spiritual
agar dapat menjalankan hidup dan kehidupanya secara bahagia. Ke tiga dimensi
tersebut perlu untuk di jalankan secara bersama-sama agar menjadi manusia
seutuhnya yaitu daya intelektual, emosional dan spiritual. Ke tiga dimensi
tersebut harus di berikan porsi yang sama dalam arena pendidikan.
Sedangkan Arif Rohman membagi lima
dimensi yang di miliki oleh seorang individu
1.
Dimensi individualitas
2.
Dimensi sosialitas
3.
Dimensi rasionalitas
4.
Dimensi religiulitas
5.
Dimensi moralitas
kita pasti sepakat tentang peningkatan kelima dimensi seperti
yang di katakan oleh Rohman di atas harus sama-sama di jalankan secara beriringan
dan mendapatkan perhatian yang sama. Misalkan konsep pendidikanya leo tolstoy
yang memnginginkan bahwa para murid harus di hargai dan di hormati sebagai
manusia yang bebas dan merdeka dalam proses pendidikan. Paulo freire
menginginkan agar manusia bisa bebas dan merdeka dengan catatan bahwa yang
tertindas harus menyadari bahwasanya ia berada dalam situasi ketertindasan.
Tanpa ada kesadaran dari para individu bahwa ia tengah berada dalam suasana
ketertindasan sangatlah tidak mungkit untuk melakukan dan membebaskan dirinya dalam suasana
ketertindasan tersebut. Begitupun dengan dengan para aktor-aktor dalam dunia
pendidikan bahwa mereka harus menyadari tengah berada dalam suasana
ketertindasan.
Para praktisi pendidikan baik itu
para guru, dosen, murid dan semua yang mempunyai hak dalam membuat regulasi dan
kebijakan-kebijan pendidikan haruslah mengkaji tentang ke lima konsep tentang dimensi yang di miliki
oleh para individu agar pendidikan memiliki makna dan bisa menjadi instrument transformasi social kemasyarakatan kearah
yang lebih baik demi membangun bangsa dan Negara yang lebih baik pula.

0 Komentar