Kita bangga hidup di era Demokrasi.
seakan-akan apapun yang kita inginkan di era ini selalu terpenuhi. Demokrasi,
konon katanya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakya dan juga kita bebas untuk
menyampaikan pendapat kita, pikiran kita. Kita bebas untuk memilih, bebas untuk
berkehendak. Kita semua memiliki hak yang sama sebagai warga negara tidak
membedakan ras, kulit hitam atua kulit putih inilah Demokrasi yang kita pahami
dan kita anggap sebagai sebuah sistem yang patut untuk di terapkan dan di
junjung tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dala dunia pendidikan, demokrasi juga di
maknai seperti itu, bebas untuk berpendapat. Kebebasan yang di maksud dalam
sistem demokrasi belum jelas arah maupun tujuanya. Dalam dunia pendidikan
peserta didik tidak di ajarkan untuk berpikir secara independen, seorang
pendidik tidak mengajarkan secara independen. Pendidikan yang konon katanya
memanusiakan manusia kini sedah berubah dan sudah di lakukan redefinition tentang pendidikan itu sendiri
di karenakan bahwa kita hidup di era modern, di jaman yang penuh dengan
tekhnologo-tekhnologi yang canggih, dunia selalu berubah-ubah Pendidikan yang
tidak mengikuti perkembangan jaman akan ketinggalan dan bahkan mundur. Dengan
kemajuan tekhnologi yang terjadi dalam dunia kontemporer saat ini sehingga
pendidikan pun di lakukan redinition
untuk menyesuaikan dengan jaman. Dalam konteks kekinian pendidikan sudah hilang
makna dasarnya.
Di jaman ini pendidikan-pendidikan
formal(sekolah) sudah di jadikan sebagai alat atau kendaraan yang bisa membawa
para perta didiknya pada masa depan yang lebih bagus dan menjanjikan dalam
dunia pekerjaan. Pendidkan yang pada dasarnya membentuk moral manusia,
membentuk karakter-karakter yang jujur, kini sudah di jadikan sebagai kendaraan
yang mengantar kita ke arah yang pragmatime. Peserta didik konon katanya bebas
untuk berpendapat. Bebas menyampaikan apaun yang ada dalam pikiranya sebenarnya
itu hanyalah sebuah rekayasa untuk membentuk kesadaran-kesadaran palsu. Setiap
hari siswa di sodorkan dengan berbagai macam buku-buku teks, para siswa di
suruh untuk menghafal teks yang di suruh oleh gurunya , di suruh menghafal
pemikiran si A maupun si B di sinilah terbentuknya kesaran-kesadaran palsu.
Kalau seorang siswa tidak bisa menghafal maka seorang guru akan memberikan
hukuman kepada siswa tersebut. Kejadian-kejadian seperti itu kerapkali terjadi
dalam pendidikan-pendikan formal(sekolah, dan bahkan di perguruan tinggi).
Bebas untuk berpendapat dalam kelas
hanyalah sebuah kata untuk menghegemoni
para peserta didik untuk tetap patuh dengan apa yang menjadi aturan-aturan yang
di buat oleh mereka. Kalau saya melihat metode-metode seperti itu yang di
gunakan dalam ruang-ruang pendidikan yang formal justru akan melahirkan
pemikiran-pemikiran yang pragmatisme jauh dari cita-cita pendidikan yang yang
sesungguhnya. Pertanyaanya, mana kebesan perpendapat utau kebebasan berpikir
kalau metode seperti itu yang di pakai oleh pendidikan formal?. Bagi saya tidak
ada para siswa yang benar-benar independen untuk berpikir.
Pendidikan tidak lagi mendidik manusia
untuk memanusiakan manusia tetapi pendidikan justru mendidik manusia menjadi
mesin yang siap untuk di tempatkan kemana saja yang sesuai dengan profesinya.
Pendidikan sekarang menciptakan manusia-manusia yang berjiwa robotisme apabila
suatu saat di butuhkan maka robot tersebut siap untuk di gerakkan. Cara
berpikir para peserta didik dalam model pendidikan seperti ini tidak ada yang
benar-benar berpikir atas dasar kesadaran para individu.Kesadaran yang
terbangun dalam model pendidikan seperti hanyalah kesadaran-kesadaran palsu.

0 Komentar